Friday, December 6, 2013

Kaidah Wujuh Dan An-Nazhair

Kaidah Wujuh Dan An-Nazhair
  1. A.    Pendahuluan

Alquran merupakan mu’jizat terbesar Rasulullah SAW. Ia merupakan kalam Allah SWT yang secara otentik sampai ke hadapan kita. Tidak ada kitab-kitab lain yang mampu bertahan selama berabad-abad dalam kondisi  sebagaimana aslinya, melainkan Alquran. Karena, memang Allah telah menjamin penjagaan Alquran itu sendiri hingga akhir zaman.
Banyak hal yang menjaga otentisitas Alquran ini. Seperti adanya faktor eksternal yaitu para huffaz yang sangat banyak bertebaran. Memang suatu keistimewaan tersendiri, Alquran bisa dihafal oleh orang non Arab sekalipun yang notabene bahasa Arab bukanlah bahasa mereka. Akan tetapi tidak ada yang bisa menghafal buku atau koran lokal dengan bahasa mereka masing-masing. Begitu juga dengan ilmuan yang dengan telitinya menghitung ayat, kata, bahkan huruf dalam Alquran.
Tak kalah penting—dan sangat penting sekali—unsur-unsur internal Alquran yang memberikan andil yang sangat besar dalam otentisitas ini. Hal ini berupa keajaiban-keajaiban yang tiada terkira sebelumnya, seperti halnya keajaiban angka sembilan belas yang ada dalam Alquran. Nilai sastra yang terkandung dalam kalimat demi kalimat pada setiap ayat demi ayat dan surat dari awal hingga akhir mencapai batas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia untuk membuat karya yang menyamainya.
Namun begitu, tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar permasalah tersebut. nantinya, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini berkenaan dengan salah satunya saja, yaitu dari segi al-wujuh wa al-nazhair dalam Alquran. Dalam Alquran sering ditemukan pengulangan kata-kata yang sama. Pada setiap tempatnya, kata-kata tersebut memiliki tunjukan makna yang berbeda. Pada ayat setiap ayatnya lain kata tersebut mengalami pergeseran makna sesuai dengan konteksnya. Pergeseran makna tersebut tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran Alquran. Bahkan, dengan adanya pergeseran tersebut dapat menuju pada standar untuk memperoleh makna Alquran yang sebenarnya dalam kondisi objektif teks dan firman Allah SWT. Salah satu metode untuk bisa memahami isi Alquran seorang mufasir harus bisa menguasai makna asli dan makna ‘aridly dan perlu mempelajari ilmu wujuh dan nazhair sebagai pembuka makna-makna ayat yang tersembunyi. Seseorang tidak dikatakan sebagai ahli tafsir apabila belum bisa menguasai wujuh dan nazhair dalam Alquran.

Saturday, November 2, 2013

Sebatang Kara


Siang hari yang mencekal, dengan sinar mentari yang tak seperti biasanya. Menandakan pertanda awal musim kemarau  telah tiba. Rasa dahaga melonjak tinggi,tenggorokan mengering, tubuh seketika dibasahi keringat yang bercucuran hingga baju menjadi basah karena kringat.
Dari kejauhan, terlihat dua bocah membersihkan tanaman singkong dipekarangan rumahnya.Kedua anak tersebut adalah Yono dan Ridho, dua anak bersaudara yang kini telah menjadi yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal ketika mereka berdua masih kecil. Kedua orang tuanya meninggal dalam peristiwa tabrak lari dua tahun silam.  Yono dan Ridho  kemudian diasuh oleh neneknya yang sudah tua dan sering kali sakit-sakitan.

GADIS BERKACA MATA



            Mentari bersinar cerah, teriknya lumayan tak panas, tak sepanas terik dimusim kemarau, yang membuat tanah kekeringan dan debu bertebaran disepanjang jalan, mengepul bagai debu dari letusan gunung berapi.
            Waktu berjalan begitu cepat, tak tersadari kini aku mulai beranjak semakin dewasa, meninggalkan umur tujuh belas tahun. Meninggalkan sejuta kenangan pondok yang terus menimbulkan kerinduan. Kini masa SMA telah berlalu dan masa kampus telah menanti dan melambai-lambai didepan mata. Dan kini aku harus pergi meninggalkan perkarangan rumah menuju daerah yang tak pernah kujemahi didalam hidupku.
            Begitu berat rasa hati meninggalkan bunda, jauh melangkah meninggalkannya. Hingga dua pulau membentang menjadi penghalang dengan tanah kelahiran. Tanah yang ku anggap sebagai tanah surga, dengan keindahan alam, pesisir pantai nan indah dari semenanjuk selong sampai kute[1]. Ditambah dengan udara nan segar, dari pohon-pohon yang berdiri kokoh dan lebat.

Bagaimana Isi Blog ini ?