Showing posts with label Pelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran. Show all posts

Wednesday, September 9, 2015

KB DALAM PANDANGAN ISLAM

Pada dasarnya, wacana keagamaan tentang KB (keluarga berencana) adalah merupakan isu klasik yang sesuangguhnya telah lama usai. Perdebatan-perdebatan mengenai isu ini berikut argumen-argumennya telah lama diulas tuntas dikalangan para ulama, baik itu di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia muslim. Jadi, bagaimana islam menanggapi hal ini ?
Dalam problame masa kini tersebut,terdapat perdebatan keras antara para agamawan yang pro dan kontra terhadap permasalahan KB tersebut. Meraka (para agamawan) sama-sama menggunakan dalail yang sama, yakni dalil tentang A’zl (persenggamaan terputus). Namun beberapa versi hadis dengan redaksi yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam hadits versi pertama menyebutkan bahwa A’zl adalah al-wa’d-u al-khafiy (pembunuhan tersamar) yang dimana versi hadits ini digunakan sebagai landasan oleh mereka yang kontra terhadap KB. Berikut hadits hadits tentang A’zl tersebut :
“Dari Aisyah, bahwa Judzamah binti Wahb-saudari perempuan Ukasyah berkata: ‘aku mendapatkan Rasulullah bersabda ditengah banyak orang. Beliau bersabda ;Sungguh aku berkeinginan untuk melarang perbuatan ghilah (persetubuhan dengan istri yang sedang menyusui), namun tatkala aku melihat orang-orang Romawi dan Persia melakukan Ghilah (yang diduga akan berdampat negatif) terhadap anak-anak mereka, ternyata hal itu tidaklah sedikitpun membahayakan anak-anak mereka; Lalu mereka bertanya tentang A’zl, Maka Rasulullah bersabda; ‘ia adalah pembunuhan tersamar.’”
Dalam hadits ini, Nabi sedang menepis anggapan dari masyarakat Arab yang menganggap bahwa Ghilah adalah perbuatan yang dapat membahayakan anak-anak yang sedang disusui. Namun disini Nabi menegaskan bahwa sebenarnya Ghilah bukanlah perbuatan yang dapat membahayakan anak-anak yang disusui. Hal tersebut dapat dibuktikan dari pradaban lain, dimana bangsa Romawi dan Persia melakukan Ghilah dan tidak membahayakan suatu bahaya apapun kepada anak-anak mereka yang tengah disusui. Melalui bukti konkrit inilah nabi Saw. meluruskan  pandagan miring tentang hal tersebut.
Pada kesempatan yang lainnya, Nabi pernah ditanya tentang A’zl,dimana nabi memberikan jawaban bahwa A’zl adalah pembunuhan tersamar (al-wa’d al-khafiy). Dalam kitab “Tuhfah al-ahwadziy”, karya Syaikh Abu Al-ala’ al-Mubarakfuri, salah satu kitab syarh (komentar) atas kitab sunan Al-Tirmidzi, menyatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara pembunuhan yang tersamar (al-wa’d al-khafiy) dengan pembunuhan yang sesungguhnya (al-wa’d al-haqiqiy).
Al-wa’d al-Haqiqiy merupakan pembunuhan berdasarkan tujuan (al-qashd) dan aksi (al-fi’l) atas fisik yang bernyawa, seperti mengubur anak permpuan hidup-hidup seperti yang dilakukan pada zaman Jahiliyyah. Sedangkan al-wa’d al-khafiy hanya sebuah rencana (al-qashd) tanpa melakukan aksi (al-fi’l).
Dengan demikian A’zl bukanlah perbuatan yang dilarang, melainkan sebuah perbuatan yang bertujuan untuk mencegah pembunuhan dalam rahim agar tidak hamil. Dengan melihat uraian diatas bisa disimpulkan bahwa A’zl sebetulnya merupakan tradisi yang dilakukan masa lalu untuk menghindari kehamilan. Yang dalam kehidupan modern saat ini A’zl juga bisa disebut KB (keluarga Berencana). Berbeda nama namun memiliki tuhuan yang sama. Yakni sama-sama untuk mencegah kehamilan.

 Semoga tulisannya bermanfaat ya :D


*Sumber : Siapa Bilang KB haram ? (menolak pandangan kelompok Islam Fundamentalis tentang larangan KB) karya Mukti Ali El-Qum dan Roland Ginawan.

Sunday, December 21, 2014

Tuhan Itu Nyata! - Kisah dari Nasir Siddiq

Tuhan Itu Nyata! - Kisah dari Nasir Siddiq: Nasir Siddiq, keturunan langsung dari Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi Muhammad, bersaksi bagaimana dia bisa percaya Yesus. Di puncak suksesnya, dia terserang penyakit aneh yang membuat muka sampai bahu...

Info lenkapnya silahkan ditonton Vidionya yah...!!!
Klik Disini

Friday, December 6, 2013

Islam Dalam Masyarakat Sasak : Kajian Islam Wetu Telu

Draft Poposal Penelitian
Islam Dalam Masyarakat Sasak : Kajian Islam Wetu Telu

  1. Latar Belakang Masalah
Seperti yang kita ketahui, bahwasanya Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. Nabi akhir zaman, penutup para Nabi. Agama islampun tersebar diseluruh penjuru dunia. Agama yang bersifat universal sebagaimana yang tertuang didalam Firman Allah didalam Al-Qur’an surat Al-anbiya’ ayat 103 yang artinya :
“Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Kaidah Wujuh Dan An-Nazhair

Kaidah Wujuh Dan An-Nazhair
  1. A.    Pendahuluan

Alquran merupakan mu’jizat terbesar Rasulullah SAW. Ia merupakan kalam Allah SWT yang secara otentik sampai ke hadapan kita. Tidak ada kitab-kitab lain yang mampu bertahan selama berabad-abad dalam kondisi  sebagaimana aslinya, melainkan Alquran. Karena, memang Allah telah menjamin penjagaan Alquran itu sendiri hingga akhir zaman.
Banyak hal yang menjaga otentisitas Alquran ini. Seperti adanya faktor eksternal yaitu para huffaz yang sangat banyak bertebaran. Memang suatu keistimewaan tersendiri, Alquran bisa dihafal oleh orang non Arab sekalipun yang notabene bahasa Arab bukanlah bahasa mereka. Akan tetapi tidak ada yang bisa menghafal buku atau koran lokal dengan bahasa mereka masing-masing. Begitu juga dengan ilmuan yang dengan telitinya menghitung ayat, kata, bahkan huruf dalam Alquran.
Tak kalah penting—dan sangat penting sekali—unsur-unsur internal Alquran yang memberikan andil yang sangat besar dalam otentisitas ini. Hal ini berupa keajaiban-keajaiban yang tiada terkira sebelumnya, seperti halnya keajaiban angka sembilan belas yang ada dalam Alquran. Nilai sastra yang terkandung dalam kalimat demi kalimat pada setiap ayat demi ayat dan surat dari awal hingga akhir mencapai batas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia untuk membuat karya yang menyamainya.
Namun begitu, tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar permasalah tersebut. nantinya, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini berkenaan dengan salah satunya saja, yaitu dari segi al-wujuh wa al-nazhair dalam Alquran. Dalam Alquran sering ditemukan pengulangan kata-kata yang sama. Pada setiap tempatnya, kata-kata tersebut memiliki tunjukan makna yang berbeda. Pada ayat setiap ayatnya lain kata tersebut mengalami pergeseran makna sesuai dengan konteksnya. Pergeseran makna tersebut tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam penafsiran Alquran. Bahkan, dengan adanya pergeseran tersebut dapat menuju pada standar untuk memperoleh makna Alquran yang sebenarnya dalam kondisi objektif teks dan firman Allah SWT. Salah satu metode untuk bisa memahami isi Alquran seorang mufasir harus bisa menguasai makna asli dan makna ‘aridly dan perlu mempelajari ilmu wujuh dan nazhair sebagai pembuka makna-makna ayat yang tersembunyi. Seseorang tidak dikatakan sebagai ahli tafsir apabila belum bisa menguasai wujuh dan nazhair dalam Alquran.

Sunday, September 15, 2013

Proses terjadinya Manusia menurut Al-Qur'an dan Al Hadist

Ketika berbicara tentang manusia, Al-Qur’an menggunakan tiga istilah pokok. Pertama, menggunakan kata yang terdiri atas huruf alif, nun, dan sin, seperti kata insan, ins, naas, dan unaas. Kedua, menggunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata Bani Adam dan dzurriyat Adam.
            Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang bermakna penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Al-Qur’an menggunakan kata basyar sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjuk manusia dari sudut lahirnya serta persamaannya dengan manusia lainnya. Dengan demikian, kata basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada dimensi material manusia yang suka makan, minum, tidur, dan jalan-jalan. Dari makna ini lantas lahir makna-makna lain yang lebih memperkaya definisi manusia. Dari akar kata basyar lahir makna bahwa proses penciptaan manusia terjadi secara bertahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.
Allah swt. berfirman:

Friday, September 13, 2013

Asal-Usul Penciptaan Manusia

            Al-Qur’an telah memberikan informasi kepada kita mengenai proses penciptaan manusia melalui beberapa fase: dari tanah menjadi lumpur, menjadi tanah liat yang dibentuk, menjadi tanah kering, kemudian Allah swt. meniupkan ruh kepadanya, lalu terciptalah Adam a.s. Hal ini diisyaratkan Allah dalam Surah Shaad [38] ayat 71-72 yang artinya :
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka, apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu menyungkur dengan bersujud kepadanya.” (Q.S. Shaad [38]: 71-72.)”

Perhatikan juga firman Allah dalam Surah al-H{ijr [15] ayat 28-29 yang artinya :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. al-Hijr [15]: 28-29).

Thursday, September 12, 2013

Mushap Al-Quran

Assalamualaikum Warah Matullahiwabarakaatuh...
Terima Kasih atas Kunjangan Kawan-kawan di Blog ini,,,

"Pada kesempatan kali ini, saya dengan izin Allah, Alhamdulillah dapat mempostingkan kembali Blog ini. "
pada kesempatan kali ini, saya akan Share Mushap Al-Quran pada masa lampau. Semoga bisa bermanfaat.
Amien,, Amien,,, Amin Ya Rabbal Alamin,,,,



 











Wednesday, September 11, 2013

SEBAB-SEBAB HADITS DINAMAKAN HADITS

Oleh : Khza Alifa

            Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi ALLAH, yang menciptakan seluruh alam ini, sebagai tempat manusia untuk berpijak, meskipun itu hanya dalam waktu yang sementara. Al-hamdulillah,,, hari ini Allah memberi sedikit pengetahuan untuk ku dan juga untuk seluruh umat didunia ini.
            Melalui sebuah buku yang berjudul “Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits” aku menemukan sebuah sub-bab mengenai penyebab hadis dikatakan hadis. Maka, dibawah ini sedikit penjelasan tersebut.
            Menurut Az-Zamakhasyary, penyebab hadits dinamakan hadits adalah karena dalam periwayatan hadits banyak disebutkan “Haddatsana annan nabiya qala” = dia menceritakan kepadaku, bahwa Nabi Saw, pernah bersabda.
            Sedangkan pendapat lain diungkapkan oleh Al-Kirmany. Ia mengungkapkan bahwa dinamakan hadits karena dilihat kepada sifat “kebaruannya” dan karena kududukannya dihadapkan pada Al-Qur’an. Menurutnya Al-Qur’an itu qadim,azaly, sedangkan hadis itu yang baru.
            Selain dari dua pendapat diatas, terdapat juga pendapat dari Ibnu Rajab, ia menerangkan bahwa kata sunah dipakai untuk beberapa arti. Yakni:
1.      Perjalanan hidup Rasulullah saw. Menurut Ibnu Paris, Sunah Rasulullah adalah perjalanan hidup Rasulullah.
2.      Hadits-hadits yang diwirayatkan oleh Nabi saw.
3.      Mandub (Sunnah)
4.      Segala perkataan,perbuatan,suruhan, dan dorongan Nabi saw.
5.      Iqtikad yang benar, lawan dari bathil atau yang lemah.

Makna kata Sunnah.
1.      Ibnu Katsir berkata : “Makna yang pokok bagi Sunnah adalah jalan yang ditempuh. Tetapi apabila kata sunnah dipakai dalam istilah Syara’, maka dikehendaki adalah suruhan Nabi saw, larangannya dan beliau sunnah kan yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Inilah sebab-sebab dikatakannya dalil Syara’ ialah Al-Kitab dan Sunnah yakniAl-Qur’an dan Hadits.
2.       Ibnu Rajab berkata : Sunnah ialah i’tiqad-i’tiqad yang terpelihara dari syubhat. Untuk inilah mereka menulis kitab-kitab yang dinamakan kutub hadis dengan sunnah.
3.      Al-Kamal berkata : “Sunnah ialah segala yang diriwayatkan oleh Nabi, baik itu perbuatan ataupun perkataan, sedangkan hadits hanyalah perkataan saja.”


Sumber : Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis
karya Prof Dr. Teuku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy




Bagaimana Isi Blog ini ?